Bingung Menjelaskan Laporan Keuangan ke Tim Non-Finance? Ini Cara Mudahnya!

Dalam dunia bisnis modern, kolaborasi lintas departemen menjadi hal yang tidak terelakkan. Tim keuangan tidak lagi hanya berurusan dengan angka, laporan, dan neraca, tetapi juga dituntut mampu menjelaskan data keuangan kepada manajer, tim operasional, hingga pihak pemasaran. Tantangannya? Tidak semua orang memiliki latar belakang akuntansi atau keuangan yang kuat.
Kemampuan menjelaskan laporan keuangan kepada pihak non-keuangan adalah keterampilan strategis yang menentukan bagaimana keputusan bisnis diambil. Artikel ini akan membahas cara efektif agar komunikasi keuangan menjadi lebih mudah dipahami, relevan, dan berdampak.
Tantangan Komunikasi antara Tim Keuangan dan Non-Keuangan
Salah satu kendala utama dalam komunikasi bisnis adalah perbedaan cara pandang terhadap angka dan data. Bagi tim keuangan, laporan keuangan adalah sumber informasi yang konkret. Namun bagi pihak non-keuangan, deretan angka itu sering kali terlihat abstrak dan membingungkan.
Beberapa tantangan umum yang sering muncul adalah:
- Perbedaan bahasa teknis.
Istilah seperti accrual, liabilitas, atau EBITDA bisa terdengar asing bagi tim non-keuangan. Jika istilah-istilah ini tidak dijelaskan dengan konteks bisnis, pesan utama laporan bisa salah ditafsirkan. - Fokus yang berbeda.
Tim pemasaran cenderung fokus pada pertumbuhan penjualan, sedangkan tim produksi melihat efisiensi operasional. Di sisi lain, keuangan memprioritaskan margin dan arus kas. Tanpa komunikasi yang jelas, setiap departemen bisa menilai performa dengan kacamata yang berbeda. - Data yang terlalu kompleks.
Laporan keuangan seringkali penuh dengan angka, tabel, dan istilah teknis. Pihak non-keuangan bisa kehilangan fokus sebelum memahami intinya. - Kurangnya konteks bisnis.
Menyampaikan angka tanpa menjelaskan “mengapa” di baliknya membuat data sulit dihubungkan dengan strategi atau tindakan nyata.
Mengatasi tantangan ini memerlukan pendekatan komunikasi yang empatik, visual, dan kontekstual, bukan hanya akurat secara teknis.
Prinsip Dasar dalam Menjelaskan Laporan Keuangan
Sebelum menjelaskan angka atau laporan kepada pihak non-keuangan, penting memahami prinsip-prinsip komunikasi efektif berikut:
1. Ketahui audiens Anda
Sebelum presentasi atau rapat, pahami siapa yang akan mendengarkan.
Apakah Anda berbicara dengan tim pemasaran, HR, atau operasional?
Setiap tim memiliki prioritas dan sudut pandang berbeda.
Misalnya:
- Tim HR lebih tertarik pada biaya tenaga kerja, pelatihan, dan produktivitas.
- Tim operasional fokus pada efisiensi biaya bahan baku dan proses.
- Tim pemasaran ingin tahu dampak biaya promosi terhadap laba.
Menyesuaikan sudut pandang membantu Anda memilih istilah, data, dan visual yang relevan.
2. Fokus pada pesan utama
Laporan keuangan biasanya mencakup banyak data, tapi tidak semuanya penting bagi audiens non-keuangan.
Soroti tiga hal utama: pendapatan, biaya, dan laba.
Jelaskan tren secara sederhana, misalnya:
“Pendapatan naik 10% tahun ini, tapi margin turun karena kenaikan biaya produksi.”
Pesan seperti ini langsung menggambarkan hubungan sebab-akibat yang mudah dipahami.
3. Ubah angka menjadi cerita
Manusia lebih mudah memahami narasi daripada tabel. Ubah data menjadi cerita bisnis.
Contoh:
“Biaya distribusi meningkat 15% karena ekspansi ke wilayah baru. Namun, hal ini membantu peningkatan penjualan sebesar 25% di area tersebut.”
Dengan pendekatan naratif, laporan keuangan tidak lagi terlihat kaku, melainkan bagian dari perjalanan bisnis.
4. Hindari jargon teknis berlebihan
Gunakan istilah umum yang mudah dipahami, seperti:
- “Utang” alih-alih “liabilitas”
- “Pendapatan sebelum pajak” daripada “EBT”
- “Laba kotor” bukan “gross margin”
Tujuannya bukan menyederhanakan secara berlebihan, tetapi memastikan pesan diterima dengan jelas.
Gunakan Visualisasi dan Bahasa Sederhana
Data keuangan yang rumit dapat menjadi jauh lebih mudah dipahami dengan visualisasi dan penyederhanaan bahasa. Visual bukan sekadar dekorasi, tetapi alat untuk menjelaskan konsep yang abstrak menjadi konkret.
1. Visualisasi Data Keuangan
Visualisasi membantu audiens non-keuangan melihat tren dan pola.
Beberapa contoh visual yang efektif:
- Grafik garis untuk tren pendapatan dan laba dari waktu ke waktu.
- Diagram batang untuk perbandingan biaya antar divisi.
- Pie chart untuk menunjukkan proporsi pengeluaran.
- Dashboard interaktif menggunakan alat seperti Power BI atau Google Data Studio.
Contoh sederhana:
Daripada menyebut “biaya operasional meningkat 12%”, tunjukkan grafik yang menyoroti kategori biaya dengan warna mencolok.
Visual mempermudah audiens menangkap pesan utama tanpa harus menelaah seluruh angka.
2. Gunakan Bahasa yang Naratif dan Ringan
Bahasa yang sederhana lebih mudah diingat dan mendorong diskusi.
Gunakan kalimat aktif dan hindari istilah akuntansi yang terlalu formal.
Contoh perbandingan:
| Kurang Efektif | Lebih Efektif |
| “EBITDA Q2 meningkat 8,4% dibandingkan Q1.” | “Keuntungan operasional naik 8% dibanding kuartal lalu karena penjualan meningkat.” |
Kalimat kedua lebih komunikatif dan langsung menggambarkan dampak bisnis.
3. Kaitkan Angka dengan Aktivitas Nyata
Setiap angka dalam laporan memiliki cerita di baliknya.
Misalnya, jika biaya pemasaran naik, jelaskan kegiatan spesifik seperti kampanye digital atau promosi produk baru.
Dengan begitu, pihak non-keuangan dapat melihat hubungan antara angka dan hasil kerja mereka.
Contoh Analogi Praktis untuk Menjelaskan Angka
Salah satu cara paling efektif menjelaskan laporan keuangan adalah menggunakan analogi sehari-hari.
Analogi membantu pihak non-keuangan menghubungkan konsep abstrak ke situasi yang mereka pahami.
Berikut beberapa contoh analogi yang bisa digunakan:
- Arus kas seperti aliran air di tangki.
Pendapatan adalah air yang masuk, pengeluaran adalah air yang keluar.
Jika pengeluaran lebih besar dari pemasukan, tangki akan kosong. Ini membantu menjelaskan konsep cash flow dengan visual sederhana. - Neraca keuangan seperti foto kondisi tubuh.
Neraca menunjukkan “kesehatan” perusahaan pada satu titik waktu, seperti laporan medis.
Aset adalah kekuatan tubuh, utang adalah beban, dan ekuitas adalah daya tahan finansial. - Laporan laba rugi seperti catatan perjalanan bisnis.
Ia menunjukkan seberapa jauh perusahaan telah berjalan dalam periode tertentu—apakah menghasilkan keuntungan atau masih tertahan di biaya. - Depresiasi seperti penyusutan nilai mobil.
Setiap tahun, nilai mobil berkurang karena pemakaian. Hal yang sama terjadi pada aset tetap perusahaan seperti mesin atau peralatan.
Dengan analogi, Anda tidak hanya menyampaikan angka, tetapi juga membantu audiens “merasakan” maknanya.
Tips Membangun Pemahaman Lintas Departemen
Kemampuan menjelaskan laporan keuangan dengan baik tidak cukup jika tidak ada pemahaman lintas fungsi di dalam organisasi. Berikut beberapa tips membangun komunikasi yang lebih efektif antara tim keuangan dan departemen lain:
1. Adakan sesi edukasi keuangan berkala
Buat program Finance for Non-Finance, di mana tim keuangan memberikan pelatihan singkat bagi karyawan dari divisi lain.
Fokuskan pada topik praktis seperti membaca laporan laba rugi, memahami margin, dan pengelolaan anggaran.
2. Libatkan non-keuangan dalam analisis
Ketika membahas laporan bulanan, ajak tim lain memberikan interpretasi atas data.
Misalnya, minta tim produksi menjelaskan penyebab kenaikan biaya bahan baku.
Langkah ini menciptakan rasa kepemilikan terhadap hasil keuangan.
3. Gunakan contoh konkret dari aktivitas sehari-hari
Hubungkan angka ke hasil nyata: proyek, kampanye, atau inovasi yang dilakukan.
Contoh:
“Kenaikan penjualan 15% bulan lalu sebagian besar berasal dari promosi digital yang dilakukan oleh tim marketing.”
4. Gunakan platform kolaboratif
Manfaatkan alat seperti Google Sheets, Notion, atau Power BI yang memungkinkan semua divisi melihat data yang sama secara real-time.
Kolaborasi data meminimalkan kesalahpahaman dan meningkatkan transparansi.
5. Dorong budaya komunikasi terbuka
Ciptakan lingkungan di mana tim non-keuangan merasa nyaman untuk bertanya tentang laporan keuangan tanpa takut terlihat tidak paham.
Respons yang suportif dari tim keuangan akan memperkuat kerja sama lintas fungsi.
Kesimpulan
Kemampuan menjelaskan laporan keuangan kepada pihak non-keuangan adalah kompetensi strategis bagi tim keuangan modern. Angka dan data hanya memiliki nilai jika bisa dipahami dan digunakan untuk pengambilan keputusan.
Dengan menerapkan prinsip komunikasi yang empatik, menggunakan visualisasi data, dan menyederhanakan bahasa tanpa kehilangan makna, laporan keuangan bisa menjadi alat kolaborasi yang memperkuat sinergi antar tim.
Ingatlah bahwa komunikasi keuangan yang baik bukan hanya tentang menyampaikan angka, tetapi membantu seluruh organisasi memahami cerita di baliknya bagaimana keputusan harian berdampak pada kesehatan keuangan dan masa depan perusahaan.
Tingkatkan kemampuan Anda dalam memahami dan mengelola laporan keuangan dengan mengikuti pelatihan profesional yang dirancang khusus untuk praktisi bisnis dan keuangan. Kuasai teknik analisis, penyusunan, serta interpretasi laporan keuangan agar keputusan bisnis Anda semakin akurat dan strategis. Klik tautan ini untuk melihat jadwal terbaru dan penawaran spesial.
Referensi
- Harvard Business Review. How to Explain Financials to Non-Financial People. 2023.
- Investopedia. Understanding Financial Statements: A Guide for Non-Finance Managers. 2024.
- PwC Insights. Bridging the Gap Between Finance and Operations. 2023.
- McKinsey & Company. Data Storytelling for Business Decision-Making. 2024.
- Deloitte Academy. Finance for Non-Finance Training Module. 2023.
- The Institute of Management Accountants (IMA). Effective Communication in Finance Teams. 2024.